Sabtu, 16 Maret 2013

Teknik Budidaya Tembakau Kasturi

Penulis : Ludfy Eko Prasetyo


BUDIDAYA TEMBAKAU KASTURI



Baku Teknis Budidaya Tembakau Kasturi

Tembakau kasruti sebagai bahan baku Industri Hasil Tembakau (IHT) merupakan tembakau yang hanya dihasilkan di wilayah Kabupaten Jember dan sekitarnya, sehingga tembakau ini sangat dibutuhkan oleh hamper semua industry rokok. Untuk menghasilkan tembakau yang baik maka diperlukan teknis budidaya tembakau kasturi yang baik. Berikut teknis budidaya tembakau kasturi :

2.1 Pemilihan Lahan dan Pergiliran Tanaman
Penanaman dapat dilakukan di lahan tegal maupun sawah. Pada lahan tegal tidak memiliki pengairan teknis atau tadah hujan, penanaman dilakukan pada bulan April dan Mei. Di lahan sawah, merupakan lahan yang berpengairan teknis, penanaman dapat dilakukan pada bulan Mei dan Juni, atau tergantung dengan cuaca yang berkembang pada musim tanam yang bersangkutan. Secara umum lahan harus terbuka, mendapatkan sinar matahari penuh, memiliki musim kemarau yang tegas, minimal 4 bulan kering sepanjang tahun. Tanah mengandung khlor (>80 ppm) yang umumnya dekat pantai atau mendapatkan pengairan dari air tanah/sumur atau irigasi berkadar khlor > 25 ppm dihindari sebagai lahan penanaman tembakau. Lahan yang baik untuk ditanami tembakau adalah bekas tanaman padi. Lahan bekas tanaman cabe, terung, tembakau dan tanaman Solanaceae lainnya harus dihindarkan (Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kab. Jember, 2011).

2.2. Pembuatan Got
Tanaman tembakau membutuhkan air pada masa pertumbuhannya, namun tahan tergenang air. Got dalam tanaman tembakau mempunyai beberapa fungsi yaitu memasukkan dan mengeluarkan air. Fungsi yang lebih penting adalah sebagai pengolahan tanah khususnya pada tanah sawah. Dengan adanya got maka permukaan air tanah segera turun dan terjadi proses oksidasi didalam tanah. Ukuran got untuk tanah tegalan cukup 30 cm x 30 cm, denga jarak got sekitar 10 meter sampai 15 meter. Ukuran got untuk lahan sawah berkisar 40 cm x 40 cm sampai 60 cm x 60 cm, dengan jarak got kurang lebih 10 meter (KUTJ, 2004).

2.3 Pengolahan Tanah
Untuk memperoleh struktur tanah yang gembur perlu dilakukan pembakajan lahan calon tanaman tembakau kasturi. Pembajakan tanah dilakukan dengan tenaga kerja ternak maupun dengan tenaga mesin (traktor) sebanyak 3 kali. Jika pengolahan tanah kurang dalam dan kurang gembur, maka diperlukan tambahan tahapan pengolahan lagi agar bias dicapai sasaran tanah yang gembur (KUTJ, 2004). Tanah berat membutuhkan waktu minimal 45 hari sebelum jadwal tanam. Sebelum pengolahan tanah, dilakukan pembersihan lahan dari sisa tanaman sebelumnya. Pengolahan lahan pertama yaitu dengan dibajak dan dilanjutkan dengan garu untuk meratakan tanah, selanjutnya didiamkan selama 1 – 2 minggu dan kemudian diairi serta dibuat saluran – saluran drainase keliling. Selanjutnya dilakukan pengolahan lahan kedua dan pengolahan lahan ketiga, pembajakan dilakukan dengan memotong arah bajak pertama, kemudian digaru hingga rata dan didiamkan 1 – 2 minggu. Dibuat guludan sesuai jarak tanam dan dibuat lubang tanam dengan digejik (Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kab. Jember, 2011).

2.4 Jarak Tanam dan Arah Barisan Tanaman
Jarak tanam sangat menentukan kualitas daun tembakau kasturi yang dihasilkan. Jarak tanam yang rapat akan menghasilkan daun yang tipis (kurang berbody), sedangkan jarak tanaman yang terlalu renggang akan menghasilkan daun tembakau lebih berbody, namun populasi berkurang (KUTJ, 2004).

2.5 Penanaman
Waktu penanaman yang tepat pada pertengahan April sampai pertengahan Mei. Penanaman sebaiknya dilakukan pada sore hari, setelah jam 14.00. Sebelum menanam, lubang disiram air. Penyiraman air tergantung cuaca, kira – kira 1 – 2 liter per lubang tanam. Bila pH tanah rendah perlu ditambah kapur 100 – 200 gram per lubang tanam sebelum tanam. Bibit dipegang pada pangkal batang, kemudian dimasukkan ke dalam lubang tanam. Lubang tanam ditimbun lagi dengan tanah dan ditekan hati – hati supaya akar bibit menempel pada tanah. Penimbunan ini dilakukan sampai leher bibit, tetapi pucuk bibit jangan sampai tertimbun (Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kab. Jember, 2011).


2.6 Penyulaman
Tanaman yang mati atau pertumbuhannya kurang bagus secepatnya disulam. Selambat – lambatnya 3 hari setelah tanam, apabila tanaman kasturi mati dalam jumlah lebih dari 10%, maka sebaiknya dilakukan penanaman ulang (Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kab. Jember, 2011). Tujuan dari penyulaman yaitu untuk mempertahankan keseragaman populasi. Keseragaman tanaman merupakan kunci sukses pembentukan produksi dan kualitas tembakau kasturi (KUTJ, 2004).


2.7 Pemupukan
Pada dasarnya pupuk yang digunakan untuk tanaman tembakau dikehendaki pupuk yang tidak mengandung khlor (Cl). Pada cuaca basah pemberian unsure N dibatasi, sedangkan unsur P perlu ditambah dari perlakuan pada kondisi normal. Pada cuaca kering tanaman tembakau memerlukan unsur N lebih banyak dibandingkan pada cuaca normal atau basah.

            Tabel 2.7 Dosis Pemupukan Tanaman Tembakau Kasturi
No
Jenis Pupuk
Dosis / Hektar (Kg)
1
SP36
150 Kg – 225 Kg
2
Urea
200 Kg – 300 Kg
3
ZA
150 Kg – 300 Kg
4
ZK
100 Kg
Total
925 Kg
           Sumber : Komisi Urusan Tembakau Jember (KUTJ) (2004).

2.8 Pengairan atau Penyiraman
Tanaman yang baru ditanam harus disiram setiap hari selama kurang lebih 5 hari terus menerus sampai tanaman cukup kuat menahan kekeringan. Untuk merangsang akar Perlakuan torapan (apabila tidak ada air hujan) sebaiknya dilakukan pada umur tanaman diatas 30 hari. Torapan dilakukan setiap 7 hari sampai 8 hari sekali, tergantung jenis tanah dan cuaca (Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kab. Jember, 2011).


2.9 Pembumbunan (Gulud) dan Penyiangan
Pekerjaan guludan dimaksudkan untuk melonggarkan tanah yang sudah memadat kembali, membersihkan gulma serta merangsang pembentukan akar adventif. Guludan juga dimaksudkan untuk mempersiapkan pemupukan susulan. Gulud ke-1 dilakukan pada umur 12 hari sampai 15 hari setinggi 20 cm serta gulma dicabut dan dibuang. Gulud ke-2 dilakukan pada umur 18 hari sampai 22 hari dengan tinggi 30 cm serta gulma dicabut dan dibuang. Gulud ke-3 dilakukan pada tanaman berumur 35 hari (Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kab. Jember, 2011).

2.10 Topping dan Wiwil
Topping adalah memotong batang pucuk bersama bunga diatasnya, sedangakan wiwilan membuang tunas yang tumbuh pada ketiak daun. Tujuan topping dan wiwil yaitu meningkatkan kualitas daun tembakau lebih tebal, mempercepat ketuaan daun, dan meningkatkan produksi, dimana berat daun perlembar semakin bertambah (KUTJ, 2004). Ada dua jenis topping yaitu light topping dengan menyisakan daun tembakau sebanyak 16 lembar atau lebih, deep topping dengan menyisakan daun tembakau sekitar 12 – 15 lembar saja. Pemangkasan tembakau kasturi dilakukan setelah 10% dari bunga pertamanya mekar atau pada saat umur tanaman 50 hari sampai 55 hari. Pembuangan solang (tunas yang keluar pada ketiak daun) dilakukan 7 hari sekali (Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kab. Jember, 2011).

2.11 Pengendalian Hama dan Penyakit
Pengendalian hama dan penyakit tanaman dilakukan secara intensif setelah umur 7 hari setelah tanam hingga umur 63 hari setelah tanam. Pengendalian hama dan penyakit  menggunakan pestisida sintetik dengan dosis dan waktu sesuai kondisi lapang. Hama pada tanaman tembakau yaitu ulat grayak, ulat pupus, ulat jengkal, ulat tanah, ulat penggerek batang, kutu daun, trips, dan kutu putih. Sedangkan penyakit pada tanaman tembakau yaitu penyakit lanas, penyakit layu bakteri, penyakit busuk batang, penyakit virus, nematoda puru akar, dan penyakit patik.

2.12 Panen                                             
Kriteria petik pada saat umur tanaman berkisar 65 hari sampai 70 hari, tergantung kesehatan tanaman dan perlakuan pemupukan nitrogen (N). daun tembakau telah berwarna hijau kekuningan atau ujung daun menguning. Cara petik pada saat daun telah lembap (kesap) dari embun pagi atau agak lebih siang agar kandungan gula cukup tinggi (Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kab. Jember, 2011).
1.      Teknik Panen
Dilakukan dengan cara petik pada saat daun telah lembab (kesap) dari embun pagi atau agak lebih siang agar kandungan pati/gula cukup tinggi, sekali petik sebanyak 4 lembar daun atau seluruh lembar dalam satu kelas daun dipanen sekaligus.
2.      Pengangkutan
Kemasan transportasi dapat berupa keranjang atau digulung pada karung plastik untuk efisiensi angkutan. Meskipun tembakau kasturi tergolong produksi filler, namun angkutan perlu tertip agar tidak terjadi penurunan kualitas (daun tertekan atau menjadi pecah / robek ). 

Pasca panen tembakau merupakan kegiatan yang penting, karena dalam penanganan pasca panen yang baik akan menghasilkan kualitas krosok yang baik. Berikut penanganan pasca panen tembakau kasturi :
1.      Sujen / Sunduk
Daun tembakau disujen sebanyak 4 sampai 5 lembar tiap sujen. Daun tembakau dalam satu sujen harus seragam ukurannya, sama asal posisi daun dan tingkat ketuaannya.

2.      Pemeraman Tahap I
Pemeraman daun hijau pada pengolahan tembakau kasturi yaitu dun yang baru dipetik, disujen dan langsung digantung pada glantang di bangsal pemeraman. Pemeraman dilakukan selama 1 hari sampai 2 hari.

3.      Penjemuran Tahap I
Penjemuran dilakukan apabila daun tembakau sudah berwarna kuning rata, penjemuran dihamparkan pada tanah lapang selama 3 hari berturut – turut dan setiap sore sujen ditata sejajar pada bandang, pagi hari baru dijemur kembali.

4.      Pemeraman Tahap II
Pemeraman II dilakukan dengan maksud untuk membusukkan gagang tembakau agar proses penjemurannya lebih cepat. Pemeraman II dilakukan selama 2 hari (setelah penjemuran hari ke-3) dengan cara sujenan ditata sejajar pada bandang dengan posisi pangkal daun di luar.

5.      Penjemuran Tahap II
Penjemuran II dilakukan selama 5 hari sampai 6 hari berturut – turut  dengan cara dihamparkan pada tanah lapang, setiap sore sujenan ditata sejajar pada bandang dengan posisi pangkal daun didalam, pagi harinya dijemur kembali dengan cara dihamparkan di tanah lapang sampai kering seperti pada penjemuran tahap I.

6.      Lepas Sujen dan Pengepakan
Daun dan gagang sudah kering total, dapat dilakukan romposan yaitu melepas daun tembakau dari sujen, daun tembakau dilakukan sortasi sesuai dengan kualitasnya, lalu dilakukan pengepakan. 

Proses Penjualan

BERIKUT 
ANALISA USAHA BUDIDAYA TAHUN 2012

Analisa Usaha Tani Tembakau Kasturi

No
Jenis Kegiatan
Rotasi
Volume
Satuan
Harga satuan
Jumlah





(Rp)
(Rp)
1.
Biaya Tetap





Sewa Lahan
1
0,05
Ha
2.000.000
100.000

Sub Total I


100.000
2.
Biaya tidak tetap



Bahan :

Bibit Tembakau
1
1.650
Bibit
200
330.000
Kapur Dolomit
1
5
Kg
1.000
5.000
Pupuk Urea
1
24,4
Kg
1.800
43.920
Pupuk ZA
1
28
Kg
1.450
40.600
Pupuk Sp36
1
16
Kg
2.000
32.000
Pupuk ZK
1
4
Kg
8.000
32.000
Decis
1
0,292
Liter
150.000
43.800
Dursban
1
0,384
Liter
130.000
49.920
Dethane
1
0,085
Kg
90.000
7.650
Canon
1
0,192
Liter
80.000
15.360
Sujen
1
15
Kg
1.500
22.500
Tenaga Kerja :

Juring
1
60
Meter
650
39.000
Pengolahan Lahan I
1
0,05
Ha
700.000
35.000
Pengolahan Lahan II
1
0,05
Ha
700.000
35.000
Pengolahan Lahan III
1
0,05
Ha
700.000
35.000
Pengolahan Lahan IV
1
0,05
Ha
700.000
35.000
Manisi / Tepar
1
1
HKP
15.000
15.000
Penanaman
2
2
HKW
15.000
60.000
 Penyiraman
1
1
HKW
15.000
15.000
Gulud I
1
1
HKP
20.000
20.000
Gulud II
1
1
HKP
20.000
20.000
Gulud III
1
1
HKP
20.000
20.000
Pemupukan
4
1
HKW
15.000
60.000
Pengairan  / Torap
1
0,05
Ha
1.000.000
50.000
Cari Telur Cari Ulat
1
1
HKW
15.000
60.000
Pengendalian Hama & Penyakit
3
1
KHP
20.000
60.000
Topping
1
1
HKW
15.000
15.000
Wiwil
3
1
HKW
15.000
45.000
Panen
4
2
HKW
15.000
120.000
Gulung / Angkut
4
1
HKP
15.000
60.000
Penyujenan
4
1
HKW
15.000
60.000
Penjemuran
10
1
HKW
15.000
150.000
Rempos
4
1
HKW
15.000
60.000
Ngebal
1
1
HKP
20.000
20.000
Angkut Pabrik
1
1
Kali
30.000
30.000

Sub total II




1.741.750

Total Biaya Produksi




1.841.750
Total biaya produksi                           = Fixed cost  +Variable cost
                                                            = Rp.100.000  +  Rp. 1.741.750
                                                            = Rp. 1.841.750
Populasi tanaman                                = 800 tanaman
Rata-rata Berat Krosok per tanaman  = 0,127 kg
Total Berat krosok                              =  101,73 kg

Tabel 4.2 Hasil Penjualan Tembakau Kasturi Varietas Jepon
Grade
Harga (Rp)
Berat (Kg)
Jumlah (Rp)
1
31.000
23,17
718.270
2
28.000
8,25
231.000
3
27.000
9,68
261.360
4
24.000
4,76
114.240
5
22.000
5,39
118.580
6
19.500
10,47
204.165
7
18.000
8,61
154.980
8
14.000
2,66
37.240
9
12.000
1,77
21.240
10
10.000
5,47
54.700
11
8.500
2,90
24.650
12
5.500
16,90
92.950
13
4.000
1,70
6.800
Jumlah

101,73 kg
2.040.175

Total penerimaan                     = Rp 2.040.175
Harga rata- rata per kg            = Rp 20.054,80
Laba/ Rugi                              = Rp 2.040.175 – Rp 1.841.750
                                                = Rp 198.425  (Laba)

No
Komponen Analisis
Hasil
1
Populasi tanaman
800 tanaman
2
Berat krosok
101,73 kg
3
Harga jual rata-rata/kg
Rp 20.054,80
4
Total biaya produksi
Rp 1.841.750
5
Total hasil penjualan
Rp 2.040.175
6
Laba
Rp 198.425
7
BEP rupiah
Rp 666.666,67
8
BEP unit
34,09 kg
9
BEP harga
Rp 18.104,30
10
R/C ratio
1,11
11
B/C ratio
0,11

2 komentar:

  1. pak dimana tempat pembelian detain dan berapa harganya,,
    #mbem

    BalasHapus